Senin, 10 Mei 2010

Hukum Archimedes

Kalau suatu benda dicelupkan ke dalam suatu zat cair, maka benda itu akan mendapat tekanan ke atas yang besarnya sama dengan berat zat cair yang terdesak oleh benda tersebut.

Hukum Avogadro

Jika dua macam gas atau lebih sama volumenya, maka gas-gas tersebut sama banyak pula jumlah molekul-molekulnya masing-masing, asal temperatur dan tekanannya sama pula.

Hukum Boyle

Jika suatu kwantitas dari suatu gas ideal (yakni kwantitas menurut beratnya) mempunyai temperatur konstan, maka hasil kali volume dan tekanannya juga merupakan bilangan konstan.

Hukum Newton

Dua benda salaing tarik menarik dengan suatu gaya yang sebanding-selaras dengan massa-massa dari kedua benda tersebut dan sebanding-balik dengan kuadrat dari jarak antara kedua benda itu.

Hukum Ohm

Jika suatu arus listrik melalui suatu penghantar, maka kekuatan arus tersebut adalah sebanding-selaras dengan tegangan listrik yang terdapat diantara kedua ujung penghantar tadi.

Hukum Pascal

Jika suatu zat cair dikenakan tekanan, maka tekanan itu akan merambat ke segala arah dengan tidak bertambah atau berkurang kekuatannya.

Hukum Snellius

  1. Jika suatu cahaya melalui perbatasan dua jenis zat cair, maka garis semula tersebut adalah garis sesudah sinar itu membias dan garis normal dititik biasnya, ketiga garis tersebut terletak dalam satu bidang datar.
  2. Perbandingan antara sinar-sinar dari sudut masuk dan sudut bias adalah bias.

Hukum Archimedes

Kalau suatu benda dicelupkan ke dalam suatu zat cair, maka benda itu akan mendapat tekanan ke atas yang besarnya sama dengan berat zat cair yang terdesak oleh benda tersebut.

Hukum Avogadro

Jika dua macam gas atau lebih sama volumenya, maka gas-gas tersebut sama banyak pula jumlah molekul-molekulnya masing-masing, asal temperatur dan tekanannya sama pula.

Hukum Boyle

Jika suatu kwantitas dari suatu gas ideal (yakni kwantitas menurut beratnya) mempunyai temperatur konstan, maka hasil kali volume dan tekanannya juga merupakan bilangan konstan.

Hukum Newton

Dua benda salaing tarik menarik dengan suatu gaya yang sebanding-selaras dengan massa-massa dari kedua benda tersebut dan sebanding-balik dengan kuadrat dari jarak antara kedua benda itu.

Hukum Ohm

Jika suatu arus listrik melalui suatu penghantar, maka kekuatan arus tersebut adalah sebanding-selaras dengan tegangan listrik yang terdapat diantara kedua ujung penghantar tadi.

Hukum Pascal

Jika suatu zat cair dikenakan tekanan, maka tekanan itu akan merambat ke segala arah dengan tidak bertambah atau berkurang kekuatannya.

Hukum Snellius

  1. Jika suatu cahaya melalui perbatasan dua jenis zat cair, maka garis semula tersebut adalah garis sesudah sinar itu membias dan garis normal dititik biasnya, ketiga garis tersebut terletak dalam satu bidang datar.
  2. Perbandingan antara sinar-sinar dari sudut masuk dan sudut bias adalah bias.

Hukum Archimedes

Kalau suatu benda dicelupkan ke dalam suatu zat cair, maka benda itu akan mendapat tekanan ke atas yang besarnya sama dengan berat zat cair yang terdesak oleh benda tersebut.

Hukum Avogadro

Jika dua macam gas atau lebih sama volumenya, maka gas-gas tersebut sama banyak pula jumlah molekul-molekulnya masing-masing, asal temperatur dan tekanannya sama pula.

Hukum Boyle

Jika suatu kwantitas dari suatu gas ideal (yakni kwantitas menurut beratnya) mempunyai temperatur konstan, maka hasil kali volume dan tekanannya juga merupakan bilangan konstan.

Hukum Newton

Dua benda salaing tarik menarik dengan suatu gaya yang sebanding-selaras dengan massa-massa dari kedua benda tersebut dan sebanding-balik dengan kuadrat dari jarak antara kedua benda itu.

Hukum Ohm

Jika suatu arus listrik melalui suatu penghantar, maka kekuatan arus tersebut adalah sebanding-selaras dengan tegangan listrik yang terdapat diantara kedua ujung penghantar tadi.

Hukum Pascal

Jika suatu zat cair dikenakan tekanan, maka tekanan itu akan merambat ke segala arah dengan tidak bertambah atau berkurang kekuatannya.

Hukum Snellius

  1. Jika suatu cahaya melalui perbatasan dua jenis zat cair, maka garis semula tersebut adalah garis sesudah sinar itu membias dan garis normal dititik biasnya, ketiga garis tersebut terletak dalam satu bidang datar.
  2. Perbandingan antara sinar-sinar dari sudut masuk dan sudut bias adalah bias.

Selasa, 04 Mei 2010

Menyusun Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)

Menyusun Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)

Friday Wage, 7 March 2008 — Pendidikan

Pengertian

Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan proses pembelajaran yang holistik dan bertujuan membantu siswa untuk memahami makna materi ajar dengan mengaitkannya terhadap konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial dan kultural), sehingga siswa memiliki pengetahuan/ ketrampilan yang dinamis dan fleksibel untuk mengkonstruksi sendiri secara aktif pemahamannya.

CTL disebut pendekatan kontektual karena konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota masyarakat.

Rasional

Dalam Contextual teaching and learning (CTL) diperlukan sebuah pendekatan yang lebih memberdayakan siswa dengan harapan siswa mampu mengkonstruksikan pengetahuan dalam benak mereka, bukan menghafalkan fakta. Disamping itu siswa belajar melalui mengalami bukan menghafal, mengingat pengetahuan bukan sebuah perangkat fakta dan konsep yang siap diterima akan tetapi sesuatu yang harus dikonstruksi oleh siswa. Dengan rasional tersebut pengetahuan selalu berubah sesuai dengan perkembangan jaman.

Pemikiran Tentang Belajar

Proses belajar anak dalam belajar dari mengalami sendiri, mengkonstruksi pengetahuan, kemudian memberi makna pada pengetahuan itu. Transfer belajar; anak harus tahu makna belajar dan menggunakan pengetahuan serta ketrampilan yang diperolehnya untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya. Siswa sebagai pembelajar; tugas guru mengatur strategi belajar dan membantu menghubungkan pengetahuan lama dengan pengetahuan baru, kemudian memfasilitasi kegiatan belajar. Pentingnya lingkungan belajar; siswa bekerja dan belajar secara di panggung guru mengarahkan dari dekat.

Hakekat

Komponen pembelajaran yang efektif meliputi:
Konstruktivisme, konsep ini yang menuntut siswa untuk menyusun dan membangun makna atas pengalaman baru yang didasarkan pada pengetahuan tertentu. Pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak secara tiba-tiba. Strategi pemerolehan pengetahuan lebih diutamakan dibandingkan dengan seberapa banyak siswa mendapatkan dari atau mengingat pengetahuan.

Tanya jawab, dalam konsep ini kegiatan tanya jawab yang dilakukan baik oleh guru maupun oleh siswa. Pertanyaan guru digunakan untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir secara kritis dan mengevaluasi cara berpikir siswa, seangkan pertanyaan siswa merupakan wujud keingintahuan. Tanya jawab dapat diterapkan antara siswa dengan siswa, guru dengan siswa, siswa dengan guru, atau siswa dengan orang lain yang didatangkan ke kelas.

Inkuiri, merupakan siklus proses dalam membangun pengetahuan/ konsep yang bermula dari melakukan observasi, bertanya, investigasi, analisis, kemudian membangun teori atau konsep. Siklus inkuiri meliputi; observasi, tanya jawab, hipoteis, pengumpulan data, analisis data, kemudian disimpulkan.

Komunitas belajar, adalah kelompok belajar atau komunitas yang berfungsi sebagai wadah komunikasi untuk berbagi pengalaman dan gagasan. Prakteknya dapat berwujud dalam; pembentukan kelompok kecil atau kelompok besar serta mendatangkan ahli ke kelas, bekerja dengan kelas sederajat, bekerja dengan kelas di atasnya, beekrja dengan masyarakat.

Pemodelan, dalam konsep ini kegiatan mendemontrasikan suatu kinerja agar siswa dapat mencontoh, belajr atau melakukan sesuatu sesuai dengan model yang diberikan. Guru memberi model tentang how to learn (cara belajar) dan guru bukan satu-satunya model dapat diambil dari siswa berprestasi atau melalui media cetak dan elektronik.

Refleksi, yaitu melihat kembali atau merespon suatu kejadian, kegiatan dan pengalaman yang bertujuan untuk mengidentifikasi hal yang sudah diketahui, dan hal yang belum diketahui agar dapat dilakukan suatu tindakan penyempurnaan. Adapun realisasinya adalah; pertanyaan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya hari itu, catatan dan jurnal di buku siswa, kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran pada hari itu, diskusi dan hasil karya.

Penilaian otentik, prosedur penilaian yang menunjukkan kemampuan (pengetahuan, ketrampilan sikap) siswa secara nyata. Penekanan penilaian otentik adalah pada; pembelajaran seharusnya membantu siswa agar mampu mempelajari sesuatu, bukan pada diperolehnya informasi di akhr periode, kemajuan belajar dinilai tidak hanya hasil tetapi lebih pada prosesnya dengan berbagai cara, menilai pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh siswa.

Penerapan CTL dalam pembelajaran

Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri dan engkonstruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan baru. Lakukan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua toipik. Kembangkan sifat keingin tahuan siswa dengan cara bertanya. Ciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok-kelompok). Hadirkan model sebagai contoh dalam pembelajaran. Lakukan refleksi pada akhir pertemuan. Lakukan penilaian otentik yang betul-betul menunjukkan kemampuan siswa.

Senin, 03 Mei 2010

Doa Mengubah Segala Sesuatu…



Doa Mengubah Segala Sesuatu…

Aku percaya Tuhan, setiap masalahku tidak akan pernah melebihi kemampuanku…

Aku percaya Tuhan, pada saat keadaan dan kenyataan didepanku mengecewakan perasaanku, aku tidak sendiri…

Aku percaya Tuhan, kau melihat setiap tetes air mataku dan lututku yang bertelut didepan-Mu…

Aku percaya Tuhan, disaat aku merasa sendiri dan tidak mampu melakukan apapun Kau ada disampingku…

Aku percaya Tuhan, iman dan keyakinanku akan selalu menguatkanku…

Aku percaya Tuhan, setiap perih yang aku rasakan dan tidak sesuai dengan keinginanku, Kau akan selalu ada untuk meyakinkanku tetap berjalan…

Aku percaya Tuhan, setiap kaki aku terasa goyah, Kau akan memegang tanganku…

Aku percaya Tuhan, disaat aku merasa jalan didepanku tertutup akan Kau bukakan jalan lain yang tak terpikir oleh jalan pikiranku…

Aku percaya Tuhan, disaat aku merasa terpojok untuk setiap bebanku akan Kau angkat dan Kau ganti dengan sempurna…

Aku percaya Tuhan, mata-Mu tidak buta dan tidak akan membiarkan aku jauh dari pandanganmu…

Aku percaya Tuhan, telinga-Mu tidak tuli dan mendengar setiap jeritanku…

Aku percaya Tuhan, tangan-Mu tidak akan pernah diam dan berhenti bekerja…

Aku percaya Tuhan, Kau tidak akan pernah membiarkan aku jatuh sampai tergeletak…

Aku percaya Tuhan, setiap rencana dan rancangan-Mu akan indah pada waktu-Nya…

Aku percaya Tuhan, akan Kau ganti setiap tetes air mataku, akan Kau basuh jiwaku, akan kau tambahkan imanku lewat setiap cobaan yang kau ijinkan aku hadapi…

Aku percaya Tuhan, Kau mendengar setiap doaku…

Aku percaya Tuhan, kau hanya sejauh doa-doaku…

Aku percaya Tuhan, setiap janji-Mu dan bahwa Mujizat itu nyata didepanku lewat setiap doa-doaku…

Aku percaya Tuhan, setiap doa yang aku panjatkan kepada-Mu tidak akan pernah sia-sia…

Disetiap Keletihanku, Ajar Aku Tuhan…

Untuk mengucapkan syukur pada setiap hal, pada apapun yang terjadi…

Untuk mengampuni dengan hati yang tulus…

Untuk memberi dengan kerelaan…

Untuk berbagi dengan senyuman…

Untuk tidak mengeluh dan mudah menyerah…

Untuk mengasihi setiap orang sekalipun mereka menyakiti hatiku…

Untuk berserah diri pada-Mu dan membiarkan setiap rencana-Mu berjalan dan terjadi sesuai dengan kehendak-Mu dan bukan kehendakku…

Aku percaya, ketika aku berdoa…Mujizat Itu Nyata

Aku percaya, ketika aku berdoa…Semua Akan Indah Pada Waktu-Nya

Kuatkan aku Tuhan disetiap langkahku karena aku tahu jalanku tidak mudah. Tambahkan imanku Tuhan karena aku tahu Kau tidak akan pernah meninggalkan aku seorang diri…

-xoxoxo

Tentang Tuhan, Kataku, “Apa Katamu?

Tentang Tuhan, Kataku, “Apa Katamu?”
i.

Mengamati kata, tepatnya sebuah kata, mengawali pemikiran tentang korelasi antara bahasa dan rasio, termasuk di dlmnya rasionalisasi dan rasionalitas. Kata, sbg ’struktur plg sderhana’ dlm suatu bahasa* adalh ‘objek terdekat dan termudah untuk diamati’ bg kepentingan di sini. Karena itulah, kataku,”Apa katamu?”

*Bahasa pun sebuah kata yg bermakna. Krn itu perlu melampirkan di sini ‘bahasa’ yg dimaksud, yaitu:

Definisi bahasa adalah sebagai berikut:

  1. suatu sistem untuk mewakili benda, tindakan, gagasan dan keadaan.
  2. suatu peralatan yang digunakan untuk menyampaikan konsep riil mereka ke dalam pikiran orang lain
  3. suatu kesatuan sistem makna
  4. suatu kode yang yang digunakan oleh pakar linguistik untuk membedakan antara bentuk dan makna.
  5. suatu ucapan yang menepati tata bahasa yang telah ditetapkan (contoh: Perkataan, kalimat, dan lain-lain.)
  6. suatu sistem tuturan yang akan dapat dipahami oleh masyarakat linguistik

Tanpa mnyertakan definisi kata yg ’sesungguhnya sulit didefinisikan’ itu di sini (KBBI, Tata Baku Bhs Ind, dan definisi umum di dunia Barat memberikan definisi2 yg ‘berbeda’), stiap kita pasti tahu bahwa kata yg kita gunakan dlm ‘berbahasa’ selalu ‘mewakili suatu makna tertentu’. Krn bermakna, maka ada pembedaan atau persesuaian antara kata yg satu dgn kata yg lain, antara kataku dengan katamu, jg kata mereka. Bgmn dgn katanya? Apapun katanya itu, bila menggunakan bahasa yang sama, kita semua bs berharap tdk akan ada masalah di antara kita. Jadi, kataku, “Apa katamu?”

Meski mnggunakan bahasa yg sama, blm tentu ‘cara berbahasa’ pd setiap org jg sama. Dialek, logat, pun penekanan pada suku kata atau huruf tertentu adalh permasalahan yg lain lagi selain faktor2 ‘yg tdk kelihatan’, misalnya psikologis pun intelektualitas. Sebut saja ‘bahasa’ seseorg dewasa yg lg marah dan seorg ank kecil yg bru belajar ngomong yg baru bs mengucapkan satu kata sj, yaitu ‘anjing’. Klo kedua ‘tokoh fiktif’ itu mengucapkan kata yg sama kpd anda, kataku, “Apa Katamu?”.. Tampaknya, bkn hanya ‘cara berbahasa’ sj yg berpengaruh thd ‘makna sebuah kata’, ’siapa yg berkata-kata’ jg memaknai sebuah kata.. Ataukah ada ’makna baru (tambahan?) dr sebuah kata’ di dlm bahasa yg digunakan selain definisinya? Untuk mnjwab pertanyaan trakhir ini, sehubungan dgn dua ‘tokoh fiktif’ td, dan mengingat bahwa setiap kata memiliki makna tertentu (ini yg memungkinkan terjadinya komunikasi atau miskomunikasi), kita perlu sebuah pertanyaan lg untuk ‘mereka’ jwb, yaitu, “Maksud Lo?”

Kata ‘anjing’ saja, yg maknanya bkn cm kita tahu, tp jg kita ‘alami’ dlm realitas yg sesungguhnya, berpotensi menciptakan miskomunikasi, mispersepsi, misinterpretasi, dan mis mis lainnya, apalgi kata2 yg hanya kita pahami scr konseptual sj tp tdk kita ‘alami’. Misalnya kata ‘kudus’ atau ’suci’ (’atau’nya skaligus ‘mendefinisikannya’ berbeda dgn Pabrik Rokok atau tetangga baru sy yg suka numpang mandi di tetangga sbelah kostnya). Sebenarnya, pendefinisian kata ini, ktika sy mencoba melihtnya di KBBI, sy malah tambah bingung. KBBI mendefinisikannya, tpatnya mensinonimnya, dgn kata2 negatif, spt TDK bercela, TDK bernoda, dsb. Ini brarti perlu memahami apa makna kata ‘cela’ dan ’noda’ lg…dan itu bs mnimbulkan potensi yg lbh besar akan miskonsepsi dr kata yg sesungguhnya, yaitu KUDUS/SUCI td. Pencarian makna yg ‘melelahkan’ meski faktualitas bahasa ini jg memberi sebuah kesimpulan bahwa kata, merupakan unit ‘terkecil’ dr suatu kesatuan sistem makna, yaitu bahasa itu sendiri.

Tentang TUHAN, apa yg kita pikirkn atau, apa yg kita katakan (=bahasakan) tentang-NYA? (lht jg coretan uneg2 sy yg lain; Theophilo-ku, Introducing #1 untuk mmperjelas mksud pertanyaan skaligus pernyataan ini). Bukankah DIA yg mengkomunikasikan diri-Nya dgn menggunakan bahasa yg kita pahami? Ataukah DIA membahasakan diri-Nya menggunakan bahasa-Nya yg kemudian kita pelajari (ini spt kita mempelajari bahasa asing yg tdk kita pahami sblmnya; non-indonesia)? Dua pertanyaan terakhir, apakh ada pebedaannya? Yg manakah dr dua pertanyaan trkhir itu yg memuat pengertian ‘pewahyuan’? Mungkin, agar tdk ada masalah spt ini, kita katakan sj bahasa-Nya, yaitu bahasa yg dipakai-Nya untuk ‘mengkomunikasikan’ diri-NYA kpd kita adalah jg bahasa yg sudh kita pahami. Toh, apapun itu, jls haruslah bahsa yg sama antara TUHAN, sbg yg mengkomunikasikan diri-Nya, dgn manusia, yg mnjd ‘pihak kedua’ dlm komunikasi tsb.

Bagaimana pula dengan rasionalisasi ataupun rasionalitas? Bila bahasa mewakili apa dipikirkan, maka rasionalisasi adalh proses ‘pembahasaan’ dan rasionalitas adalah ‘kecakapan berbahasa’ (ini spt anak bayi dgn ‘kosakata’ <0>objek rasionya, yaitu term atau batasan masalah(=topik diskusi)nya, dlm sistem rasionalitas tertentu atau bahasa tertentu, maka konsep RIIL apakah yg tersampaikan (lht defnsi bahasa d atas) bilamana TUHAN berkomunikasi dgn manusia? Bahasa apakh (siapakh?) yg digunakan? Atau, rasionalitas dan rasionalisasi yg bagaimanakah (apa, siapa?) yg seharusnya? Lantas, bagaimana pula dengan seseorg yg ‘mengkomunikasikan’ Tuhan kpd seseorg yg lain agar konsep riil yg ingin disampaikn tsb bs sampai kpd si penerima berita?…Tampaknya, diperlukan sebuah POLA RASIO yg tepat sbgmn BAHASA yg tepat dalam sebuah komunikasi..

Tentang TUHAN, kataku, ada banyak atribut yg ‘dilekatkan’ kepada-NYA. Atribut? Krn itu dilekatkan. Dilekatkan? Krn kata2 untuk ‘membahasakan’ diri-NYA bukanlah DIRINYA. Bila kata ‘kudus, suci’ di atas td ’sulit dipahami, bgmn bila di’tempeli’ kata MAHA? Semakin rumit mendefinisiknnya, bkn? Baiklah, masalah ini, di sini, disederhanakan dgn mendfinisikan kata ‘kudus, suci’ itu dgn sebuah kata negatif, yaitu ‘TDK berdosa’, TANPA dosa, atau bebas dr dosa. Ini pun tdk cukup memberi solusi.. Bebas,,memberi kesan ’spt napi yg habis masa tahanannya’. TDK dan TANPA, kata negatif yg hanya menunjukkan ‘realita yg sebenarnya (=dialami)’ dr apa yg di’maknai’ oleh kata ‘yg dinegatifkan’. Maksudnya ialah ‘kita tdk tahu (=tdk mengalami) makna bntuk kata positifnya (dlm hal ini KUDUS, SUCI) sbgmn mengalami DOSA atau ‘anjing’ td,..shg itu kita pahami scr a priori, yaitu pmahaman yg ‘terbatas’ pd sebuah konsep atau ide. (sy tdk mengatakan ide spt ini salah atau ‘tdk nyata’). Yg sy ‘katakan’ ialah pemahaman yg kita miliki antara KUDUS dan DOSA jls berbeda scr, hmm…sy kekurangan kosakata untuk mnyampaikn maksud sy di sini..,mgkin kata ‘kualitas’ bs mewakili mksud sy it. Hufffh, tdk mudah buat sy membahsakan ataupun mengkomunikasikan mksud sy itu di sini. Blm lg ‘atribut2′ lain spt maha besar, maha tahu, maha sempurna, tdk terpahmi, tdk terbatas, dsb..

Tentang TUHAN, “Apa Katamu?